Jumat, 22 Juli 2011

DWDM

DWDM sebagai Solusi Krisis Kapasitas Bandwidth pada Transmisi Data
Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) sebagai
Solusi Krisis Kapasitas Banwidth pada Transmisi Data

Antisipasi kebutuhan kapasitas bandwidth yang besar dan kualitas yang tinggi
untuk transmisi datasangat diperlukan. Hal ini merupakan akibat tuntutan kehandalan
jaringan yang memada, dan persaingan antar pemberi layanan telekomunikasi
semakin ketat. DWDM (Dense Wavelength Division Multiplexing) merupakan salah
satu solusi. Teknologi ini merupakanteknologi penjamakan yang mengoptimalkan
pemanfaatan bandwidth pada serat optis.Teknologi ini paling prospektif untuk
memultipleks beberapa kanal dalam serat optis, karena teknologi ini membagi kanal
dalam daerah panjang gelombang.
Kata Kunci: Teknologi DWDM, kapasitas bandwidth, transmisi data, penjamakan.
1. Pendahuluan
Semakin beragamnya layanan informasi, tuntutan
kehandalan jaringan yang memadai, dan persaingan
antar pemberi layanan telekomunikasi yang semakin
ketat berakibat pada meningkatnya tuntutan sistem
transmisi yang memiliki kapasitas bandwidth besar
dan kualitas yang tinggi. Tingginya permintaan atas
layanan transmisi data ini dapat ditunjukkan dengan
Gambar 1.


Antisipasi kebutuhan bandwidth yang besar ini
telah diupayakan dengan meningkatkan kualitas media
transmisi yang digunakan, di antaranya dengan
menggunakan serat optis. Serat optis digunakan
sebagai media transmisi pilihan, karena memiliki
beberapa keunggulan, antara lain memiliki bandwidth
yang besar (25 THz), redaman transmisi kecil, ukuran
kecil, dan tidak terpengaruh oleh gelombang
elektromagnetis. Namun dengan teknologi serat optis
konvensional, bandwidth potensial tersebut belum
dapat dimanfaatkan secara optimal.
Saat ini muncul teknologi untuk memanfaatkan
bandwidth serat optis yang besar ini dengan metode
penjamakan. Pada komunikasi serat optis terdapat
beberapa metode penjamakan, yaitu TDM


(TimDivision Multiplexing) dan WDM (Wavelength
Division Multiplexing) yang selanjutnya berkembang
menjadi DWDM (Dense Wavelength Division
Multiplexing). Saat ini teknologi DWDM merupakan
teknologi paling prospektif untuk memultipleks
beberapa kanal dalam serat optis, karena teknologi ini
membagi kanal dalam daerah panjang gelombang,
sehingga lebih mudah diakses dalam serat optis
dibandingkan pembagian atas waktu pada TDM.



2. Solusi Peningkatan kapasitas
Bandwidth
Perubahan infrastuktur telekomunikasi yang
sangat mendasar terjadi pada awal tahun 1980, yaitu
penggunaan komputer dan kabel-serat optis,
menggantikan fungsi switch CO (central office) dan
saluran kabel tembaga. SONET/SDH diterima sebagai
standar pembangkitan sinyal bagi industri telekomunikasi.
SONET/SDH merupakan suatu kumpulan standar
yang mampu meningkatkan keamanan, bandwidth,
efisiensi, dan kehandalan jaringan. Dengan menggunakan
teknologi SONET/SDH, perusahaan telekomunikasi
dapat meningkatkan kapasitas transmisi menjadi
2.5 Gbps untuk standar STM-16/OC-48, bahkan 10
Gbps untuk STM-64/OC-192. Meskipun SONET/SDH
Gambar 1. Pertumbuhan permintaan
Bandwidth
JURNAL TEKNIK ELEKTRO EMITOR Vol. 2, No. 1, Maret 2002
22





telah mampu meningkatkan kecepatan transmisi secara
dramatis, dan memanfaatkan jaringan serat optis
dengan sangat efektif, namun permintaan pasar
terhadap bandwidth melebihi kapasitas jaringan yang
tersedia.
Metode untuk mendapatkan kapasitas transmisi
yang lebih tinggi, dijalankan seperti berikut.
1. Pengadaan jaringan serat optis baru.
Metode ini memerlukan biaya ivestasi yang sangat
besar, perkiraan biaya yang diperlukan untuk
membangun sebuah jaringan serat optis adalah
$70.000/mil.
2. Investasi untuk teknologi TDM yang memiliki
kapasitas yang lebih tinggi.
Teknologi TDM mampu melewatkan sinyal pada
kecepatan 2.4 Gbps per serat, bahkan 10 Gbps per
serat. Namun terdapat hambatan fisis pada serat
yang menyulitkan untuk mendapatkan kecepatan
transmisi yang lebih tinggi.
3. Penerapan teknologi DWDM.
Metode ini sangat efektif dan efisien untuk
meningkatkan kapasitas bandwidth jaringan.
Teknologi DWDM mampu melewatkan sinyal
dalam jumlah yang sangat besar. Sebuah ilustrasi,
jaringan DWDM 40 kanal, dengan masing-masing
kanal digunakan untuk melewatkan sinyal STM
16 (2,5 Gbps) mampu menghasilkan kapasitas
total 100 Gbps per serat.
3. DWDM (Dense Wavelength Division
Multiplexing)
Pada awal tahun 1980 diperkenalkan teknologi
WDM (Wavelength Division Multiplexing), yang
mampu memanfaatkan cahaya dengan panjang
gelombang yang berbeda-beda (tiap panjang
gelombang mengandung sinyal informasi yang
berbeda) yang kemudian dimultipleks menjadi satu
Gambar 2. Piramida evolusi DWDM
Gambar 3. Sistem DWDM
Gambar 4. Spasi kanal pada sistem DWDM
Endah Sudarmilah, DWDM sebagai Solusi Krisis Kapasitas Bandwidth pada Transmisi Data
23
sinyal agar dapat dikirimkan dalam satu utas serat
optis secara simultan. WDM pada saat itu hanya
mempunyai 2 kanal yang terletak pada panjang
gelombang 1310 dan 1550 nm.
Teknologi DWDM merupakan perbaikan
teknologi WDM yang telah dikembangkan
sebelumnya, yaitu memperkecil spasi antar kanal,
sehingga terjadi peningkatan jumlah kanal yang
mampu dimultipleks. Inti perbaikan terdapat pada
infrastruktur yang digunakan, seperti jenis laser, tapis,
dan penguat. Perbaikan teknologi ini dipicu dengan
adanya perkembangan teknologi fotonik, seperti
penemuan EDFA (Erbium Doped Fiber Amplifier)
sebagai penguat optis, dan laser dengan presisi yang
lebih tinggi yang disebut teknologi DWDM (Dense
Wavelength Division Multiplexing). Penemuan EDFA
memungkinkan DWDM beroperasi pada daerah 1550
nm yang memiliki atenuasi rendah, sementara
sebagian besar sistem WDM konvensional masih
beroperasi pada daerah 1310 nm dengan tingkat
atenuasi lebih tinggi.
3.1. Konsep Dasar DWDM
Masukan sistem DWDM berupa trafik yang
memiliki format data dan pesat bit yang berbeda
dihubungkan dengan laser DWDM. Laser tersebut
akan mengubah masing-masing sinyal informasi dan
memancarkan dalam panjang gelombang yang
berbeda-beda λ1, λ2, λ3 ……, λN,. Kemudian masingmasing
panjang gelombang tersebut dimasukkan ke
dalam MUX (multiplexer), dan keluaran disuntikkan
ke dalam sehelai serat optis. Selanjutnya keluaran
MUX ini akan ditransmisikan sepanjang jaringan
serat. Untuk mengantisipasi pelemahan sinyal, maka
diperlukan penguatan sinyal sepanjang jalur transmisi.
Sebelum ditransmisikan sinyal ini diperkuat terlebih
dahulu dengan menggunakan penguat akhir (postamplifier)
untuk mencapai tingkat daya sinyal yang
cukup. ILA digunakan untuk menguatkan sinyal
sepanjang saluran trasmisi. Sedangkan penguat awal
(pre-amplifier) digunakan untuk menguatkan sinyal
sebelum dideteksi. DEMUX (demultiplexer)
digunakan pada ujung penerima untuk memisahkan
panjang gelombang-panjang gelombang, yang
selanjutnya akan dideteksi menggunakan fotodetektor.
Multiplexing serentak kanal masukan dan
demultiplexing kanal keluaran dapat dilakukan oleh
komponen yang sama, yaitu multi/demultiplexer.
Sistem DWDM memiliki lapisan fotonika utama
yang bertanggung jawab untuk melewatkan data optis
melalui jaringan, dengan beberapa prinsip dasar, yaitu
spasi kanal, arah aliran sinyal, dan pelacakan sinyal.
3.2. Spasi kanal
Spasi kanal merupakan jarak minimum antar
panjang gelombang agar tidak terjadi interferensi.
Standarisasi spasi kanal perlu dilakukan agar sistem
DWDM dari berbagai vendor yang berbeda dapat
saling berkomunikasi. Jika panjang gelombang operasi
berbanding terbalik dengan frekuensi, hubungan
bedanya dikenal dalam panjang gelombang masingmasing
sinyal. Faktor yang mengendalikan besar spasi
kanal adalah bandwidth pada penguat optis dan
kemampuan penerima mengidentifikasi dua set
panjang gelombang yang lebih rendah dalam spasi
kanal. Kedua faktor itulah yang membatasi jumlah
panjang gelombang yang melewati penguat.
Saat ini terdapat dua pilihan untuk melakukan
standarisasi kanal, yaitu menggunakan spasi lamda
atau spasi frekuensi. Hubungan antara spasi lamda
dan spasi frekuensi adalah:
Δ f ≈ −c/λ2 Δλ

………..(1)
dengan:
Δf = spasi frekuensi (GHz)
Δλ = spasi lamda (nm)
λ = panjang gelombang daerah operasi (nm)
c = 3 x 108 m/s.
Konversi spasi lamda ke spasi frekuensi (dan
sebaliknya) akan menghasilkan nilai yang kurang
presisi, sehingga sistem DWDM dengan satuan yang
berbeda akan mengalami kesulitan dalam
berkomunikasi. ITU-T kemudian menggunakan spasi
frekuensi sebagai standar penentuan spasi kanal.
3.3. Kelebihan Teknologi DWDM
Kelebihan teknologi DWDM adalah transparan
terhadap berbagai trafik. Kanal informasi masingmasing
panjang gelombang dapat digunakan untuk
melewatkan trafik dengan format data dan pesat bit
yang berbeda. Ketransparanan sistem DWDM dan
kemampuan add/drop akan memudahkan penyedia
layanan untuk melakukan penambahan dan atau
pemisahan trafik. Berkaitan dengan ketransparanan
sistem DWDM, dikenal a dua sistem antarmuka, yaitu
sistem terbuka dan sistem tertutup, ditunjukkan oleh
Gambar 5. Elemen jaringan DWDM sistem terbuka
memungkinkan penjamak SONET/SDH, switch IP dan
ATM disambungkan secara langsung pada jaringan
DWDM. Sedangkan pada sistem tertutup, switch IP
dan atau ATM tidak dapat secara langsung
dihubungkan ke jaringan DWDM, namun memerlukan
perantaraan penjamak SONET/SDH yang berasal dari
vendor yang sama dengan vendor perangkat DWDM
yang digunakan.
Perbandingan teknologi serat optis konvensional
dan teknologi DWDM adlah sebagai berikut.
1. Kapasitas serat optis yang dipakai lebih optimal.
DWDM dapat mengakomodir banyak cahaya
dengan panjang gelombang yang berbeda dalam
sehelai serat optis, sedangkan teknologi serat optis
konvensional hanya dapat mentransmisikan satu
panjang gelombang dalam sehelai serat optis.
Tabel 1. Konversi spasi lamda ke spasi frekuensi
(λ=1550 nm)


JURNAL TEKNIK ELEKTRO EMITOR Vol. 2, No. 1, Maret 2002
24




2. Instalasi jaringan lebih sederhana. Penambahan
kapasitas jaringan pada teknologi serat optis
konvensional dilakukan dengan memasang kabel
serat optis baru, sedangkan pada DWDM cukup
dilakukan penambahan beberapa panjang
gelombang baru tanpa harus melakukan
perubahan fisik jaringan.
3. Penggunaan penguat lebih efisien. DWDM
menggunakan penguat optis yang dapat
menguatkan beberapa panjang gelombang
sekaligus dengan interval penguatan yang lebih
jauh, sehingga penguat optis yang digunakan
pada DWDM lebih sedikit dibandingkan
pembangkit-ulang yang digunakan pada teknologi
serat optis konvensional.
Penguat optis yang digunakan dalam teknologi
DWDM adalah EDFA. EDFA merupakan serat
optis dari bahan silika (SiO2) dengan intinya
(core) telah dikotori dengan bahan Erbium (Er3+),
termasuk ke dalam golongan Rare-Earth Doped-
Fibre Amplifier.
Berikut ini adalah beberapa keunggulan yang
dimiliki oleh EDFA, sehingga dapat mendukung
teknologi DWDM:
a. Faktor peroleh EDFA sangat tinggi
EDFA pada tahap eksperimen memiliki gain
sebesar 40 dB, sedangkan perangkat EDFA
komersial mempunyai gain 20-30 dB dengan
memompa energi sebesar 10 mW.
b. Bandwidth lebar
Ion Erbium melepaskan foton dengan interval
panjang gelombang 1.530-1.560 nm atau sama
dengan bandwidth sebesar 3 THz. Pada interval
tersebut redaman yang terjadi pada serat optis
hanya berkisar 0,2 dB/km, sehingga EDFA dapat
memperkuat puluhan sinyal dengan panjang
gelombang yang berbeda secara bersamaan.
c. Noise figure EDFA sangat kecil
Noise figure merupakan perbandingan antara
S/Nin dengan S/Nout, sehingga untuk transmisi
jarak-jauh akan menghasilkan akumulasi derau
optis, namun dengan adanya tapis optis pada
perangkat EDFA maka noise figure yang muncul
sangat kecil.
Gambar 5. Perbandingan sistem DWDM terbuka dan tertutup
Gambar 6. Teknologi serat optis konvensional
Gambar 7. Teknologi DWDM
Endah Sudarmilah, DWDM sebagai Solusi Krisis Kapasitas Bandwidth pada Transmisi Data
25
d. Daya keluaran yang besar
Daya keluaran pada EDFA meningkat seiring
dengan meningkatnya daya diode laser (optical
pump).
e. Kemudahaan instalasi
EDFA mudah diinstalasi karena EDFA juga
berbentuk serat.
4. Biaya pemasangan, pemeliharaan dan
pengembangan lebih efisien. Hal ini akibat
arsitektur jaringan DWDM lebih sederhana
dibandingkan arsitektur jaringan serat optis
konvensional.
4. Kesimpulan
Dengan analisis perbandingan teknologi DWDM
dengan serat optis konvensional seta dengan berbagai
kelebihan yang dimiliki oleh teknologi DWDM
merupakan suatu solusi yang tepat untuk krisis
kapasitas pada transmisi data dengan kelebihan
sebagai berikut.
- Transparan terhadap berbagai trafik yang
memungkinkan penjamak SONET/SDH, switch
IP, dan ATM.
- Kapasitas serat optis yang dipakai lebih optimal.
- Instalasi jaringan lebih sederhana.
- Penggunaan penguat lebih efisien.
- Biaya pemasangan, pemeliharaan, dan
pengembangan lebih efisien.
Daftar Pustaka
[1] Awagral, G., 1997, Fiber Optic Communication Systems, 2nd ed, John Wiley & Sons, New York
[2] http://itc.mit.edu/itel/students/papers/dwdm.pdf
[3] http://www.cedmagazine.com/ced/2001/0901/DWDM%20chart.PDF
[4] http://www.iec.org/online/tutorials/acrobat/dwdm.pdf
[5] http://www.iec.org/online/tutorials/acrobat/dwdm_test.pdf
[6] http://www.telecomweb.com/cgi/catalog
[7] http://www.teracomm.com/productlines/rifocs/DWDM.pdf
[8] PalaisJ.C., 1993, Fiber Optic Communication, 2nd ed, Prentice Hall, Englewood Cliffs, New Jersey
[9] Ramaswami, R. and Sivarajan, K., 1998, Optical Networks: A Practical Perspective, Academic Press
Morgan Kaufmann
[10]Sri Widodo Th., 1997, Komunikasi Optik, Andi Offset, Yogyakarta
[11]Stern, T. and Bala, K., 1999, Multi Wavelength Optical Networks: A Layered Approach, Addison
Weasley
JURNAL TEKNIK ELEKTRO EMITOR Vol. 2, No. 1, Maret 2002
26

Sabtu, 07 Mei 2011

SWITCHING,TRANSMISI,ENERGI

TEKNIK SWITCHING


1.1 Garis Besar Jaringan Switching
1. Pola Jaringan Komunikasi

Untuk menyelenggarakan komunikasi antara 2 tempat, maka dibutuhkan suatu sirkit komunikasi antara 2 tempat tersebut.
Apabila jumlah langganan hanya beberapa, dalam arti kata kecil sekali, maka cara seperti yang ditunjukan pada Gbr. 1, yakni dengan melengkapi saluran langsung dari setiap langganan ke setiap langganan yang lain, masih mungkin untuk dilaksanakan.Akan tetapi, apabila jumlah langganan terlalu banyak, dengan sendirinya saluran-saluran yang dibutuhkan menjadi terlalu besar, sehingga tidak praktis dan dipandang dari sudut ekonomis tidak menguntungkan.
Dalam hal demikian, maka cara yang dapat dipergunakan ialah dengan melengkapi peralatan switching di tengah- tengah atau di pusat dari sekelompok langganan, yang fungsinya ialah menghubungkan antara dua langganan pada saat- saat diperlukan.Dengan cara ini, harus dipasang suatu sirkit antara peralatan switching dan setiap langganan seperti pada Gbr. 2.
Pada umunya, jaringan komunikasi terdiri dari sejumlah alat penghubung (switch) dan sirkit- sirkit pengontrol yang mengerjakan switch tadi.Jaringan- Jaringan komunikasi dapat dibagi dalam 4 macam:jaringan telepon,jaringan telex, jaringan telegraph relay (telegraph relay network),jaringan yang disewakan.














Gbr.1.1.1 Hubungan dengan saluran langsung















Gbr. 1.1.2 Pemakaian peralatan switching

2. Jaringan Transmisi

Dalam hal jumlah langganan hanya sedikit, sudah cukup dengan satu system switching seperti yang ditunjukkan pada Gbr.2.1.2. Namun dengan bertambahnya langganan-langganan dan langganan-langgganan itu tersebar dalam wilayah (area) yang luas, maka secara teknis tidaklah praktis untuk memperluas kapasitas dari switch. Juga dipandang dari segi ekonomis tidaklah menguntungkan, karena harus melengkapi dengan sejumlah saluran-saluran langganan yang sangat panjang. Karenanya suatu area dibagi menjadi beberapa area. Setiap area dilengkapi dengan satu system switching dan system-sistem switch dari seluruh area dihubungkan satu sama lain dengan saluran-saluran transit.
Apabila jumlah langganan meningkat dan kebutuhan perlengkapan switching bertambah, dengan sendirinya saluran-saluran transit yang diperlukan untuk menghubungkan kantor-kantor itu harus banyak. Jumlah saluran yang diperlukan tergantung pada bagaimana saluran-saluran transit menghubungkan kantor-kantor itu. Dua jalan dapat dipakai: cara pertama ialah setiap kantor dihubungkan dengan saluran-saluran langsung ke kantor-kantor yang lainnya, sedangkan cara kedua ialah dengan menempatkan satu system switching yang semata-mata untuk keperluan transit, di pusat suatu area dan semua sirkit dari kantor-kantor dalam area tersebut dikonsentrasikan ke system switching transit. Cara pertama disebut jaringan jenis jala (Gbr. 2.1.3). Jaringan ini sederhana dan ekonomis dan terbentuk antara beberapa kantor yang mempunyai hubungan lalu lintas yang sibuk. Yang kedua disebut jaringan jenis bintang (Gbr. 2.1.4). Ini adalah cara yang biasa dipakai apabila jumlah kantor-kantor cukup banyak.













Gbr. 2.1.3 Jaringan jenis jala








Gbr.1.4 Jaringan jenis bintang


Dalam hal dimana jaringan jenis bintang dipergunakan, sejumlah besar kantor-kantor memerlukan dipasangnya system switching transit yang mempunyai derajat atau kedudukan yang lebih tinggi yang melayani beberapa kantor transit secara bersama. Cara demikian, dimana switch transit yang dipakai bertingkat-tingkat, disebut jaringan jenis bintang bertingkat (multi-step),







Gbr. 2.1.5 Jaringan jenis bintang bertingkat

Pada dasarnya, system jaringan telepon yang dipergunakan di Jepang adalah jenis bintang bertingkat, tetapi saluran-saluran langsung dipasang antara kantor-kantor yang mempunyai lalu lintas sibuk. System ini dikenal sebagai jaringan kombinasi. Pada system ini switch mempunyai fungsi memilih suatu jalan pilihan (alternative route). Pemilihan pertama diberikan terhadap saluran-saluran langsung apabila diantaranya ada yang bebas, tetapi apabila kesemuanya itu sibuk, hubungan dilakukan melalui suatu system switching dari derajat atau kedudukan yang lebih tinggi dalam jaringan jenis bintang. Dalam hal ini dicapai suatu efisiensi yang lebih tinggi dari sirkit-sirkit.

1.2 Sistem Switching
1. Sistem switching manual
Saluran-saluran komunikasi yang berakhir pada papan sambung, satu sama lain dapat dihubungkan oleh operator secara normal. Ada dua macam papan sambung magneto atau battery local (local battery,LB) dan papan sambung battery local (common battery, central battery, CB).
Papan sambung LB dihubungkan melalui sirkit langganan ke pesawat telepon langganannya, pesawat telepon mana dilengkapi dengan primary cell untuk kepentingan pembicaraan (arus catu buat micropon) dan generator arus bel untuk kepentingan panggilan ke papan sambung. Papan sambung CB merupakan suatu kemajuan atas papan sambung LB, mengingat atas mudahnya pelayanan dan pemeliharaannya. Sistem ini menggunakan storage battery untuk keperluan pembicaraan (arus catu buat micropon) dan hubungan, yang pemasngannya dipusatkan di kantor dimana papan sambung berada (kantor telepon). Papan sambung CB dipergunakan untuk melayani sirkit-sirkit langganan, tetapi juga dipergunakan sebagai meja interlokal dan meja penerangan. Bahkan sampai saat ini pemakaian selaku meja interlokal dan meja penerangan masih terdapat secara luas.


2. Sistem Switching Otomatis
(1). Switching otomatis step by step
Pulsa-pulsa yang dikirim dari roda pilih pesawat telepon, menggerakkan alat penyambungan dan pemilihan dilakukan oleh setiap angka (digit) yang dikirim secara beruntun mulai dari angka pertama sampai dengan angka terakhir. Jadi angka terakhir dapat secara pasti memilih pihak yang dipanggil.
Sebagai suatu contoh, Gbr. 2.2.2 melukiskan hal dimana 3054 yang dipilih.
Ditunjukkan disini, selector demi selector menerima pulsa-pulsa roda pilih dan secara selangkah demi selangkah menjalin suatu hubungan sehingga akhirnya terciptalah suatu hubungan antara saluran-saluran satu sama lain. Karena inilah, cara ini disebut step by step atau langkah demi langkah.
(2). Switching Otomatis Common Control
Dalam system ini, bagian yang membentuk saluran hubungan pembicaraan dan bagian yang mengatur atau mengontrol saluran hubungan pambicaraan terpisah sama sekali dan bagian yang mengontrol saluran hubungan pembicaraan dipakai secara bersama (common)
Jika pihak pemanggil mengangkat handset, maka dengan bekerjanya sirkit langganan yang mengangkat handset tadi, sirkit pengontrol (control circuit) akan mencari pihak pemanggil. Pihak pemanggil akan dihubungkan dengan suatu register. Register akan mengirimkan nada pilih (dial tone) ke pihak pemanggil sebagai tanda bahwa dia boleh mulai memutar roda pilih (atau mengirim sinyal melalui tombl tekan, push button).

Apabila register selesai menerima informasi dari pihak pemanggil, control circuit mencari pihak yang dipanggil dan bila tidak sibuk, menghubungkan pihak pemanggil dengan pihak yang dipanggil.
Dalam prosedur ini, satuan pengontrol atau control unit hanya akan terlibat apabila diperlukan dan selama pembicaraan berlangsung, yang tergenggam semata-mata hanyalah saluran hubungan pembicaraan.
Termasuk dalam system common control ini, system crossbar switching dan system electronic switching. Pada masa ini system crossbar switching lebih banyak dipakai di seluruh dunia dan system electronic switching telah dengan cepat berkembang pada tahun-tahun belakangan ini.


Dengan mengambil system crossbar switching sebagai suatu contoh, struktur secara umum dari system common control dilukiskan pada Gbr. 2.2.3. Juga Daftar 2.2.1 menunjukkan variasi-variasi dan komponen-komponen dari crossbar switching yang sekarang dipergunakan.
Sub system:
Tugas2 DLU:
• Melaksanakan penyambungan secara fisik untuk berbagai jenis pelanggan (max 952)
• Merubah informasi suara dan signaling kedalam benruk sinyal PCM
Tugas2 LTG:
• Melaksanakan penyambungan secara fisik untuk berbagai jenis Memproses dan merubahà informasi suara dan signaling dari max 2000 pelanggan, atau dari 120 saluran dengan max trafik capacity=100 erl.
Jenis LTG:
LTGA:
• untuk melayani hub pelanggan analog max(256) LTGB:untuk melayani hub pelangganà DLU (max2000)atau switch board(max 64) LTGC: untuk melayani hub trunk PCM 30 (max120) LTGD:untuk melayani digital trunk dengan sistimà in-band-signaling dan echo supressor
Tugas utama SN(Switch network):
• Menghubungkan speech channel antara LTG satu dengan LTG yang lain secara elektrinik dan langsung (fullavailability) dengan nilai kegagalan<5.10-5>
• Menghubungkan message chanel antaraà LTG dengan CP tanpa hambatan SN diklasifikasikan menurut besarnya sentral
Tugas2 utama dari CP(coordination processor):
• Mengontrol call-processing
• Memproses tugas administratif danà tugas2 penunjang.menjamin keandalan dari pusat sinkronisasi sentral.
• Tipe dari CP disesuaikan dengan besarnya sentral.
Fungsi sub system dalam melakukan penyambungan:
DLU:
• berfungsi sebagai fisikal interfaceà mengkonsentrasikan hubungan (traffic) terhadap pelanggan
• merubah digit2 dekadik
• memonitor subscriber loop
• membangkitkan dan mengirimkan ringing current LTG
• Mengatur data2 pelanggan
• Melakukan pre-process dari digit2
• Membangkitkan dan mengirimkan nada2 .
• Memproses informasi signalling
• Mengontrol fisikal interface SN
• Melaksanakan hubungan tembus CP
• Menterjemahkan digit2
• Menentukan zone biaya
• Merubah tarif biaya
• Memilih hubungan tembus yang terbaik melalui SN
• Melakukan routing
Fungsi sub system dalam melakukan pengoperasian dan perawatan(operation&maintenance)
DLU:
• membangkitkan dan mengirimkan pulsa2 biaya kepada pelanggan2 yang memiliki unir penghitung pulsa sendiri, misalnya telpon umum.
LTG:
• Menghitung jumlah pulsa biaya
• Mengamati kelancaran hubungan
CP:
• Memonitor dan menyimpan data-data pengukuran hubungan
• Menyimpan data2 biaya
• Mengatur kelancaran pelayanan2 khusus untuk pelanggan
• Melaksanakan tugas2 pengoperasian dan perawatan
• Membuat statistika
• Mengatur administrasi data2
Fungsi sub system dalam melakukan safeguarding
DLU:
• Bila hubungan dengan LTG terputus,à DLU tetap dapat melaksanakan hubungan telpon antara pelanggan2 DLU itu sendiri.
LTG:
• Mengecek hubungan dengan DLU
• Mengecek hubungan antara A-LTG dengan B-LTG
CP:
• Menganalisa kerusakan2
• Melaksanakan tugas2 pengetesan dan diagnosa.
Safe guarding dalam STDI:
DLU:
• Hubungan anatara DLU dengan LTG dirangkap dua . dalam keadaan normal beban sambungan dibagi merata. Bila ada kerusakan , kapasitas penyambungan berkurang.
• Unit2 sentral DLU dirangkap dua
SN:
• SN dipasang rangkap dua, baik dalam bentuk keseluruhan (SN1&SN0) maupun intern dalam SN secara bersilangan(crossconnection). Dalam keadaan normal, informasi suata disambungkan dari A-LTG ke B-LTG melaui salutan yang sama dalam kedua SN. Bila terjadi kerusakan, LTG dihubungkan oleh SN yang masih bekerja
CP:
• Unit2 utama(central function blocks) didalam CP dirangkap dua atau beroperasi secara n+1. span>
Diposkan oleh Prakerin SMK Telkom Malang di 18:40 0 komentar
Label: PSG
CME (Catu Daya)
TUJUAN INSTRUKSIONAL
• Peserta mampu menjelaskan cara kerja Mechanical Electrical
• Peserta dapat menggambarkan konfigurasi sistem Mechanical Electrical
• Peserta mampu menjelaskan fungsi dari perangkat Mechanical Electrical




KOMPOSISI PERANGKAT SISTEM CATU DAYA TELEKOMUNIKASI
Komposisi perangkat Rectifier terdiri dari:
Ǿ MAINS SUPPLY (PLN)
Ǿ Diesel Genset untuk cadangan catuan input tegangan AC
Ǿ Distribusi/Instalasi listrik
Ǿ AVR menstabilkan input tegangan AC
Ǿ Rectifier mengubah tegangan AC menjadi DC
Ǿ Inverter mengubah catuan DC menjadi AC no-break
Ǿ Batere sebagai cadangan catuan tegangan DC bila rectifier mati
Ǿ Grounding sistem
Ǿ Air Conditioning
Ǿ FAP (fire alarm protection)

SISTEM DISTRIBUSI LISTRIK
PEMBAGIAN DAYA LISTRIK
Pembagian sumber daya listrik utama ke kelompok beban tergantung klasifikasi beban
PENGATURAN TEGANGAN (REGULATION)
Menstabilkan tegangan listrik sebelum disuplay ke beban
PENGUBAHAN (CONVERTER)
Mengubah sumber tegangan AC-DC, DC-AC, DC-DC sesuai sistem beban
PENYIMPANGAN (ACCUMULATION)



KONFIGURASI INSTALASI MEKANIKAL ELEKTRIKAL

JENIS PERANGKAT INSTALASI M.E
o SOURCE
o PANEL HUBUNG BAGI
o PENGANTAR
o PEMUTUS/PENGHUBUNG
o SISTEM PROTEKSI
o INDIKATOR
o LOAD


SOURCE PLN
TEGANGAN MEDIUM/TINGGI
Untuk kosumsi gedung telekomunikasi dengan daya listrik diatas 50KVA, memerlukan trafo tersendiri dengan output tegangan 220/380V
TEGANGAN RENDAH
Untuk kebutuhan daya kurang dari 50KVA, disambungkan langsung dengan tegangan rendah 220/380V







PENGERTIAN D/G
PENGERTIAN JUMLAH CC DALAM MESIN
Jumlah CC mesin adalah Jumlah Volume langkah Torak diukur didalam silinder yang merupakan perkalian antara luas penampang silinder dengan panjang langkah Torak
Untuk setiap silinder : V=1/4π X D2 X S
Untuk mesin dengan jumlah silinder = n maka :
V=1/4π X D2 X S X n
Dimana : D = diameter silinder (cm)
S = langkah torak (TMA-TMB) dalam cm
n = jumlah silinder


GENERATOR
Prinsip Generator
Bila suatu penghantar listrik yang merupakan bagian dari sirkit tertutup digerakkan di dalam medan magnet, maka di dalamnya akan dibangkitkan gaya motor listrik (gaya elektro motor = GML/EMF)
Dapat disimpulkan bahwa syarat terjadinya listrik :
Adanya magnet yang menghasilkan medan magnet excitasi, penghantar listrik yang biasanya berupa kumparan dan adanya gerakan berupa kecepatan putaran yang konstan mendorong garis-garis gaya medan magnet oleh penghantar tersebut


KECEPATAN PUTAR DAN FREKUENSI
Frequensi (Hz) ditentukan oleh kecepatan putar motor dan jumlah kutub magnet yang membentuk sistem medan magnet exitasi utama dari generastor
Di Indonesia dan Eropa kecepatan frequensi listrik = 50Hz
Di AS kecepatan frequensi listrik = 60Hz


SIRKIT PANEL HUBUNGAN BAGI
1. PHB BERDIRI SENDIRI
2. PHB DENGAN INPUT/OUTPUT DILENGKAPI FUSE DAN SANGKAR

3. PHB DICATU PHB LAIN TANPA SAKLAR INPUT/OUTPUT

4. PHB DICATU PHB LAIN DENGAN SAKLAR INPUT/UOTPUT


IDENTIFIKASI WARNA KABEL
Penghantar 3 fasa
Ǿ Fasa R/U/X : warna merah
Ǿ Fasa S/V/Y : warna kuning
Ǿ Fasa T/W/Z : warna hitam
Penghantar Netral : warna biru
Penghantar Ground : warna loreng hijau kuning

SISTEM PROTEKSI INSTALASI M.E
PROTEKSI DIPASANG AGAR UNJUK KERJA SISTEM M.E SESUAI FUNGSINYA
PENGAMANAN INSTALASI :
A. PEMUTUS/SEKERING/FUSE/MCB/RCCB
B. SISTEM GROUNDING
C. SPARK GAP, ARESTER, VARISTOR


PROTEKSI EKSTERNAL
PROTEKSI EKSTERNAL GROUNDING MELIPUTI :
AIR TERMINAL/FINAL
Berfungsi menerima sambaran petir langsung
DOWN CONDUCTOR
Berfungsi menyalurkan /menghantarkan arus petir dari final ke sistem pertahanan
SISTEM PERTAHANAN
Berfungsi membuang, menetralkan arus petir dengan aman ke tanah



PROTEKSI INTERNAL
PROTEKSI INTERNAL GROUNDING MELIPUTI :
EQUIPOTENSIAL BONDING (EB)
Fungsi : mengurangi dan menghilangkan beda potensial akibat sambaran petir
PERISAI/SHIELDING
Fungsi : mencegah induksi dan radiasi melalui medium udara ke peralatan/kabel
ARESTER
Fungsi : sebagai pemotong pulsa untuk mencegah masuknya pulsa transient petir secara konduksi melalui kabel/penghantar

LIGHTNING ARESTER
Fungsi arester sebagai pemotong pulsa arus transient petir
o Keadaan normal lightning arester sebagai isolator, pada saat arus transient masuk arester segera menjadi konduktor yang baik dengan mem bypass arus petir ke ground
o Setelah membebaskan arus transient segera berubah menjadi isolator tanpa menyebabkan arus daya membuka/menjatuhkan fuse/circuit breaker
o Perbedaan jenis arester terletak dalam cara mengubah dirinya menjadi isolator, harga besaran arus kilat yang dapat dipotong dan tegangan surge yang diijinkan pada terminalnya



FUNGSI RECTIFIER
o Mengubah catuan input AC menjadi catuan output DC yang sesuai dengan karakteristik beban
o Memelihara kapasitas batere dengan fasilitas pengisian kembali (Recharge Batere), Pengisian Kompensasi Self Discharge (Floating Charge), Pengisian Penyesuaian (Equalizing Charge)
o Memberikan catuan tegangan DC yang aman terhadap beban yang berubah-ubah
o Menjamin untuk mensuplai arus ke beban dari 0% s/d 100% IN

Contoh Prinsip Kerja RECTIFIER EWSD
Pada Kondisi Normal
#Catuan input tegangan AC 3X380 Volt. 50 Hz dari PLN atau genset masuk melalui AC Panel, kemudian didistribusikan ke masing-masing Unit Rectifier yang mengubah menjadi tegangan DC = 56V. Untuk catuan beban Sentral EWSD dan paralel untuk memelihara kapasitas batere Lead-Acid dengan pengisian TRICKLE (2,23 V/C)
Pada Kondisi Mains Failure
#Semua Unit Rectifier tidak operasi sehingga batere langsung mencatu Beban Sentral EWSD melalui panel batere (sehingga beban tidak terputus) Catuan 25 cell Batere dengan tegangan = 50 Volt (Batere Discharge)
Pada Kondisi Mains Normal Kembali <>
#Semua Unit Rectifier kembali beropesi secara Auto ke operasi Trikle Batere dengan tegangan 56 Volt. DC, serta paralel mencatu Beban Sentral EWSD melalui Panel Batere Pada Kondisi Mains Normal Kembali <>
#Semua Unit Rectifier kembali beropesi secara Auto ke operasi Recharge Batere dengan tegangan 58,5 Volt. DC, serta paralel mencatu Beban Sentral EWSD melalui Panel Batere













FUNGSI RECTIFIER
1. 1. Mengubah tegangan input arus bolak-balik (AC) menjadi tegangan arus searah (DC) yang sesuai dengan karakteristik beban
2. 2. Menjaga kapasitas batere agar agar selalu dalam kondisi full charge


INVERTER
Berfungsi mengubah catuan DC menjadi AC secara kontinyu Mencatu beban yang tidak boleh terputus (no-break) suplai powernya Sistem operasi : off line dan on line

UPS
Jenis UPS:
1.on line UPS
2.off line UPS
Elemen utama UPS :
1.Rectifier
2.Inverter
3.Batere
4.Static bypass switch
KARAKTERISTIK BATERE
Tegangan tiap sel batere :
• Tegangan nominal = 2 v/cell Tegangan ini adalah tegangan dari sel batere sel itu sendiri tanpa dihubungkan dengan rectifier/beban
• Tegangan trickle/floating = 2,15-2,25 v/cell Teganagn ini dimaksudkan untuk pengisian kompensasi dari self discharge
• Tegangan charge/equalizing = 2,23-2,4 v/cell Digunakan untuk pengisian batere, bila kapasitasnya ldibawah normal
• Tegangan initial/pengisian awal = 2,6-2,7 v/cell Digunakan untuk batere baru/baru diperbaiki


CIRI-CIRI BATERE KONDISI PENUH
1. Timbulnya gelembung-gelembung gas heterogen (gassing) pada setiap elektroda
2. Indikasi warna elektroda -elektroda : positif warna coklat tua -elektroda negatif warna abu-abu (warna timbel)
3. Setelah tiga kali pengukuran dalam selang waktu ½ s.d 1 jam

LOAD CLASIFICATION
• Non esential LOAD (Beban AC tidak penting)
Apabila catuan AC terputus untuk waktu yang lama,beban AC dalam katergori ini tidak menyebabkan terputusnya pada pelayanan telekomunikasi, seperti lampu penerangan, Air Conditioning untuk kepentingan umum
• Esential LOAD (Beban AC penting)
Load ldalam kategori ini apabila catuan AC putus, untuk sementara waktu tidak akan mengganggu terhadap pelayanan telekomunikasi sehingga harus ada catuan cadangan a. Beban AC yang tidak boleh terputus cinta (No break system) Esensial load

NON ESENSIAL LOAD
• Pemutusan catuan listrik tidak mengalami kerugian
• Penggunaan sesuai dengan kebutuhan
• Tidak berhubungan langsung dengan alat produksi
ESENSIAL LOAD
• Memerlukan catuan secara terus menerus
• Sebagai alat produksi yang vital
• Apabila terjadi pemutusan listrik timbul kerugian materiil/non materiil
• Service terganggu
AIR CONDITIONING
1. REFRIGERASI :Suatu proses pengambilan paans/kalor dari obyek yang akan didinginkan, sehingga mencapai suatu kondisi/temperatur yang diinginkan Teknik pendingin, meliputi: a. Refrigeration b. Air Conditioning
2. Dasar AC Split Adanya kebutuhan dan beberapa ruangan kerja berdekatan yang perlu dikondisikan dan perlunya efisiensi biaya serta aktivitas dari pengkondisian ruangan itu sendiri
3. Fakior-faktor yang mempengaruhi keadaan suatu ruang : à Suhu/temperatur à Kelembapan udara (humidity) à Distribusi udara à Kebersihan udara BLOK DIAGRAM AC SPLIT

OPERASI PERANGKAT MACHANICAL ELEKTRICAL
Tujuan instruksional pengoperasian parangkat ME :
é Peserta mampu mempersiapkan pengoperasian perangkat ME
é Paserta mampu mengoperasikan perangkat ME sesuai SOP
é Paserta mampu memantau kondisi operasi paerangkat ME

SOP (STANDARD OPERASI PROSEDURE)
Lingkup bahasan :
• Panel trafo TM (tegangan menengah)
• Instalasi listrik
• Control Panel Diesel Engine Generator (DEG)
• Diesel Engine Ganerator (DEG)
• UPS (Uninterruptable Power Supply)
• AVR (auotomatic voltage regulator)
• Rectifier
• Batere
• AC (Air Conditioning)
• grounding System

PANEL DEG
Tujuan Panel Control DEG :
• Mengontrol kwalitas sumber catuan listrik baik dari PLN maupun Diesel Engine Generator Set (Genset)
• Pada saat operasi auto, melakukan switch over secara auto dari catuan PLN ke catuan Genset bila PLN gangguan dan secara auto akan mengembalikan catuan oleh PLN pada saat PLN telah .normal kembali
• Pada saat operasi manual, dimaksukkan untuk melakukan pemeliharaan Genset atau pemeliharaan Panel Genset jika diperlukan dimana pengoperasiannya dilakukan secara manual sesuai petunjuk pada SOP
• Panel selalu mengontrol kondisi operasi PLN atau Genset melalui indicator dan alarm yang ada dan akan mematikan Genset yang sedang operasi jika abnormal atau melakukan switch over baik secara auto/manual jika PLN abnormal

PANEL AM F ALLIS CHAMMER 11000 (STANDBY)
• Panel ini hanya dapat mengoperasikan Genset Allis Chammer secara manual saja
• Pengopesian secara manual (bila PLN mati):
• Persiapan sebelum operasi
Menghidupkan Genset dengan memainkan ”Togle Start” untuk Genset yang akan dioperasikan
Pembebanan dilakukan setelah kondisi operasi genset berjalan normal dengan menaikkan ”CB load ON” pada genset yang hidup
ON-kan ”CB load ON” di MDP untuk mendistribusikan catuan ke masing-masing beban
Periksa panel control UPS pastikan catuan arus input UPS ada, jika belum normal kurangilah bebannya
Pembebanan dilakukan secara bertahap sesuai prioritas

Cara mematikannya (bila PLN normal kembali)
1. Putuskan beban secara bertahap
2. ”CB load ON” Genset di-OFF kan dan biarkan Genset hidup tanpa beban selama 1 menit
3. Matikan Genset dengan menurunkan ”Togle Start”
4. Masukkan catuan PLN dengan cara menekan push-button ”load On” PLN di Panel PLN
5. Periksa panel UPS dan pastikan arus inputnya ada, jika belum normal kurangi beban dan apabila sudah normal lakukan pembebanan secara bertahap

PANEL AMF DEG CAPTARPILLAR 3212
Operasi AUTOMATIC catuan PLN:
1. Persiapan dengan memastikan semua komponen utama pada panel seperti fuse, relay-relay, PLC (Programmable Logec Control) terlepas baik, kokoh dan berfungsi dengan baik
2. Cek tegangan batere tegangan 24V berupa indikator lamp menyala yang menyatakan normal. Untuk meyakinkan ukur tegangan batere
3. Pastikan catuan PLN dalam keadaan baik
4. Posisikan Switch ”Engine Start” pada kondisi ON
5. Posisikan Switch Charger pada posisi ON
6. Posisikan Switch “Manual O auto” pada posisi auto
7. Panel akan beroperasi secara AUTO baik pembebanannya dan fungsi controlnya
8. Bila PLN abnormal maka panel secara AUTO mengoperasikan Genset berikut pembebanannya
Operasi MANUAL catuan PLN :
1. Lakukan persiapan seperti petunjuk poin 1.a s/d 1.c
2. Posisikan Switch “Manusl O Auto” pada posisi manual
3. Posisikan Switch “Engine Start” pada posisi ON
4. Posisikan Switch Charger pada posisi ON
5. Tekan tombol PLN “CB ON” maka MDP beroperasi (ACB PLN 1000A bekerja mencatu beban)
6. Selanjutnya SDP melanjutkan mencatu beban
Cara MANUAL memutuskan catuan PLN :
1. Kondisi saat ini PLN sedang mencatu beban
2. Tekan tombol ”CB OFF” maka MDP bekerja memutuskan catuan beban
3. Selanjutnya lpanel siap untuk dioperasikan dengan kondisi yang dikehendaki
Cara MANUAL pengoperasian Genset :
1. Lakukan pengoperasian seperti langkah 1.a s/d 1.c
2. Posisikan Switch ”Manual O Auto” pada posisi manual
3. Posisikan Switch ”Engine Start” ke posisi ON
4. Posisikan Switch Charger ke posisi “ON”
5. Tekan tombol “Engine On” selanjutnya Genset bekerja
6. Jika output Genset stabil selanjutnya tekan tombol “CB ON” maka ACB 1000A bekerja mencatu daya
7. Selanjutnya SDP melakukan pembebanan secara auto
Cara MANUAL pengoperasian Genset :
1. Kondisi saat ini Genset sedang mencatu beban
2. Tekan Genset ”CB OFF” untuk mematikan catuan Genset ke beban
3. Tekan tombol ”Genset Stop” dengan tidak melepaskannya sampai Genset benar-benar mati
4. Selanjutnya Panel kembali kembali keposisi untuk siap dioperasikan
5. Sebelum menghidupkan DEG
6. Cek air Radiator (harus posisi maksimum)
7. Cek oli pada carter (harus posisi maksimum)
8. Cek bahan bakar kondisi siap operasi
9. Cek batere starter


OPERASI MANUAL
Menghidupkan DEG
1. Switch Auto/off/Manual Panel pada posisi manual
2. Switch Test on/off Panel pada posisi Test On
3. Switch AutoBlock-Auto On Panel pada posisi Auto OnSwitch PLN Load Man-Off-Auto Panel COS pada posisi Manual
4. Switch Genset Load Man-Off-Auto pada Panal COS pada posisi manual
5. Tekan Push-Button Engine Starter (Hijau) pada Panel AMF
6. Selang 5 menit DEG bekerja
7. Tekan Push-Button DEG-on, lamp indicator MCCB DEG-On merah menyala
8. Pada Panel AMF menyala. DEG bekerja dengan tagangan 220/380V

Memasukkan Beban
a) Tekan Push Button DEG load On (hijau) pada Panel COS
b) Selang waktu 5 detik MCCB akan On, lampu indicator catuan
c) DEG R/S/T (merah/hijau/kuning) menyala dan DEG load On (manyala)
d) Beban dicatu Genset

Melepaskan Beban
a) Yakinkan bahwa PLN sudah normal dengan lampu indicator PLN R/S/T di COS menyala
b) Tekan tombol Push-Button Load-off (merah) pada Panel COS
c) Selang waktu 5 detik MCCB DEG akan Off lampu indicator R/S/T mati
d) Tekan tombol Push-Button PLN Load-On pada Panel COS, lampu indicator
e) PLN load-On (merah) menyala, berarti PLN mencatu beban

Mematikan DEG
1. Tekan Push-Button DEG-Off (merah) pada Panel AMF selang waktu 3 detik
2. MCCB DEG akan Off, lampu indicator BCCB DEG On mati
3. Tekan Push-Button DEG-Stop (merah) pada Panel AMF, selang waktu 3 detik DEG off

Operasi Automatic
1. Selector Switch Man-Off-Auto pada Panel AMF diposisikan Auto
2. Selector Switch Test On-Test Off pada Panel AMF diposisikan Test On
3. Selector Switch Auto Block-Auto On pada Panel AMF diposisikan Auto On
4. Selector Switch PLN load Man-Off-Auto pada Panel COS diposisikan Auto
5. Selector Switch DEG load Man-Off-Auto pada Panel COS diposisikan Auto
6. Bila PLN off selang 3 menit DEG secara Auto akan setart dan mencatu beban
7. Bila PLN On lagi selang 6 detik MCCB DEG di COS akan Off kemudian
8. MCCB On selang 6 menit kemudian DEG akan mati

Operasi Capasitor BANK
Tujuan pengoperasian Capasitor :
• Mengontrol pemakaian daya listrik dari PLN agar selalu terkontrol COS φ mendekati 1
• Dengan mengoperasikan Capasitor Bank maka diupayakan agar pemakaian daya listrik lebih efisien
• Pengoperasian Capasitor Bank hanya diperuntukkan bagi catuan PLN saja sedangkan catuan dari Genset tidak dioperasikan

Spesifikasi Teknis CAPASITOR BANK
Merk :
Tipe :
Kapasitas : 200 s/d 600 KVAR

Cara pengoperasian
1. Pastikan mtegangan yangn akan tersambung ke kapasitor Bank 220/380V, 3 phase
2. Posisikan MCCB dari kondisi Off ke posisi On
3. Jika dioperasikan Otomat : Stage capasitor akan bekerja (On) sesuai dengan kebutuhan beban
4. Jika dioperasikan manual : Tombol Stage capasitor akan bekerja (On) sesuai dengan kebutuhan KVAR beban

Cara Mematikan
1. Jika dioperasikan manual : Tombol stage capasitor dimatikan (Off) sampai semua stage kcapasitor mati (Off)
2. Matikan MCCB utama

OPERASI RECTIFIER
Tujuan pengoperasian Rectifier
• Perangkat Rectifier bertujuan mengubah catuan input AC menjadi catuan output DC untuk mencatu perangkat Telkom seperti Sentral, Transmissi
• Perangkat Rectifier disamping mencatu perangkat Telkom juga berfungsi memelihara kapasitas batere
• Jika catuan input AC normal maka Rectifier bekerja dan apabila catuan input AC abnormal maka Rectifier mati dan secara langsung Batere mengambil alih catuan beban
• Output Rectifier sangat stabil dan dapat mencatu sesuai kemampuan Rectifier karena setiap Rectifier setiap Rectifier dilengkapi dengan Regulator Tegangan dan Regulator Arus

RECTIFIER SIEMENS 200-1000A GR-12
SPESIFIKASI TEKNIS
Merk :
Type :
Kapasitas :

AC INPUT
Tegangan Input : 380 VAC/3 phasa
Arus : ampere
Frekuensi : 50 Hz
Proteksi : 23-63 ampere

DC OUTPUT
Tegangan Floating : 56 VDC
Tegangan equalizing : 58,5 VDC
Tegangan Boost Ch : - VDC
Proteksi : 200-1000A
Sistem : floating

CONTROLLER
Merk :
Type :
Kapasitas :
Proteksi :

CARA MENGOPERASIKAN
• Pastikan bahwa semua fuse perangkat rectifier dalam keadaan baik dan terpasang pada posisinya masing-masing serta sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan
• Pastikan bahwa catuan input dan fuse input bdan fuse lainnya pada main Panel Rectifier dalam keadaan normal dan stand by
• On kan secara berurutan Q62,Q63 dan Q63
• Rectifier akan beroperasi setelah relay K-1 bekerja (0-15 detik) dengan indikasi H81 nyala, dan pada modul A3 LED H7, H8 nyala, LED enabling H9 nyala serta secara beransur LED gate pulse H1-H6 nyala
• Tekan tombol S44 (automatic) dan LED pada tombol tersebut menyala
• Rectifier akan menyala secara automatic mencatu beban/batere dengan tegangan 2,33 V/cell (recharge) yang dapat dilihat pada penunjukkan LED display monitor selama 0-9 jam (sesuai dengan setting awal)
• Setelah waktu setting antara 0-9 jam tercapai, maka Rectifier secara otomatis akan beroperasi mencatu beban/batere dengan tegangan 2,23 V/cell (floating charge) dapat dilihat pada penunjukkan LED display monitor
• Perhatikan besaran tegangan dan arus pada LED display monitor
h.1 Skala (volt) penunjukkan besarnya tegangan pada LED Display monitor akan sesuai dengan sistem operasi rectifier (floating charge / recharge)
h.2 Skala (presentase) penunjukkan besarnya arus pada LED Display akan sesuai dengan besarnya arus yang mengalir ke arah beban/batere dan sistem operasi rectifier (floating charge / recharge)
h.3 Jika terjadi penyimapanan besaran tegangan amupun arus yang menuju beban/batere adakan Corrective maintenance sesuai dengan standard maintenance procedure
• Rectifier beroperasi normal dengan sistem automatic dan bila terjadi pemadaman sumber catuan utama dalam waktu kurang dari 3 menit maka rectifier akan On kembali secara automatic ke sistem floating charge (2,23 V/cell) sedangkan bila terjadi pemadaman sumber catuan utama dengan waktu lebih dari 3 menit maka rectifier akan On kembali secara automatic ke recharge system (2,23 V/cell) yang selanjutnya akan berpindah ke floating charge bila setting charge time telah tercapai

Cara Mematikan Rectifier
• Pastikan bahwa kondisi batere sebagai sumber catuan cadangan dalam keadaan baik dan full capacity serta pastikan pula bahw mematikan rectifier adalah untuk tujuan Survey Condition, Preventive Maintenance, atau Corrective Miantenance
• Matikan Rectifier yang bersangkutan dengan mematikan secara berurutan Q62, Q63, Q61
• Roectifier akan OFF (tidak beroperasi) dan bila diperlukan cabutlah fuse ouotput rectifier yang bersangkutan agar tidak berintegrasi dengan Rectifier yang lainnya serta terputus dengan beban/batere


OPERASI INVERTER
Tujuan pengoperasian INVERTER :
• Perangkat Inverter berfungsi untuk mengubah catuan tegangan DC menjadi catuan tegangan AC yang stabil dan No-Break
• Perangkat Inverter ini digunakan untuk mencatu perangkat komputer atau komputer data
• Kondisi normal output Rectifier DC mencatu inverter dan selanjutnya output inverter AC no-break mencatu komputer data, bila PLN mati maka rectifier juga mati namun catuan batere langsung secara paralel mencatu inverter sehingga inverter tetap bekerja
• Bila ada gangguan pada inverter maka pada inverter ada fasilitas by-pass yang menghubungkan langsung catuan PLN via MDP ke komputer data sehingga operasi komputer tetap lancar

Operasi Inverter
INVERTER SIEMENS
G48/60-E220/48-FGS24.AS124

SPESIFIKASI TEKNIS
Merk : Siemens
Type : G48/60-E220/48-FGS24.AS124
Kapasitas : 1-2,5 KVA

CARA PENGOPERASIAN
à Menghidupkan
a. periksa tegangan input DC nominal 48 V
b. pindahkan Switch S1 ke posisi ”1”
c. lampu G1 menyala hijau
d. inverter operasi normal
e. periksa tegangan output (220 Volt AC)
à Mematikan
a. pindahkan Switch S1 ke posisi ”0”
b. lampu H18 padam
c. inverter OFF
NB: apabila pada saat menghidupkan lampu G2 menyala, maka terajdi gangguan pada inverter

Operasi UPS
Tujuan pengoperasian INVERTER:
• Perangkat UPS berfungsi untuk mengubah catuan tegangan AC menjadi tegangan AC yang stabil dan No-break
• Perangkat UPS ini digunakan untuk menjatu perangkat komputer komputer data
• Kondisi normal PLN mencatu UPS dan selanjutnya output UPS AC no-break mencatu komputer data, bila PLN mati, maka .UPS tetap mancatu beban karena dalam perangkat UPS ada proses pengubahan tegangan batere menjadi tegangan AC yang stabil dan no-break
• Bila ada gangguan pada UPS maka pada UPS ada fasilitas by-pass yang menghubungkan langsung catuan PLN via MDP ke komputer data sehingga operasi komputer tetap lancar

Operasi UPS
UPS CHLORIDE 80 KVA

SPESIFIKASI TEKNIS
UPS
Merk : CHLORIDE
Type : -
Kapasitas : 80 KVA

AC INPUT
Tegangan : 380 Volt
Arus : Ampere
Frekuensi : 50 Hz
Proteksi : -

DC INPUT
Batere Dalam : /198 cell
Proteksi : -

INVERTER OUTPUT
Bentuk Gelombang : SINEWAVE
Tegangan : 3 x 380 VOLT
Frekuensi : 50 Hz
Daya : 80 KVA
Efisiensi : -

CHARGE
Type : -
Tegangan : 449 volt
Arus : 195 A
Waktu transfer : -
Indikator dan alarm : -
Temperator operasi : 15-25° C
Diposkan oleh Prakerin SMK Telkom Malang di 18:39 0 komentar
Label: PSG
MM (Multimedia)
Tentang Divisi Multimedia

Divisi Multimedia
Divisi ini dibentuk pada tanggal 4 Maret 1997 dengan tugas menangani dan mengembangkan bisnis multimedia secara agresif dan fokus. Seperti kita ketahui bersama, multimedia merupakan teknologi yang relatif baru di Indonesia. Ia memiliki karakteristik khusus yaitu sifatnya yang cepat berinovasi serta adaptif terhadap aneka kemungkinan baru. Hal inilah yang memberi inspirasi bagi kami dalam membuka peluang bisnis baru yaitu penyatuan/konvergensi antara bidang komunikasi, komputer dan muatannya (is/content) secara digital. Kiprah perdana kami dalam bisnis transportasi multimedia dengan kecepatan dan keamanan yang prima. Sistem ini telah teruji kehandalannya dalam mendukung pengiriman berita hasil pemungutan suara PEMILU pada bulan Mei 1997.



Produk Speedy

Apa yang dimaksud dengan Speedy?
Speedy� adalah Layanan internet access end to end dari PT TELKOM dengan basis teknologi Asymetric Digital Subscriber Line (ADSL), yang dapat menyalurkan data dan suara secara simultan melalui satu saluran telepon biasa dengan kecepatan maksimal 384 kb/s.

Apa Keunggulan Layanan SPEEDY?
• Akses internet lebih cepat (hingga 384 kbps), Speedy memberikan kecepatan downoad lebih cepat.
• Saat berinternet tetap bisa bertelepon, dengan menggunakan alat pemisah (splitter), maka saat koneksi internet dengan Speedy, maka saluran telepon tetap dapat digunakan.
• Dedicated Internet, dengan akses internet yang tetap (dedicated), Speedy menjamin koneksi 24 jam selama modem terhubung.
• Koneksi memiliki sifat highly reliability dan highly secure, setiap pelanggan mendapat 1 (satu) password yang unik untuk melakukan koneksi ke internet. Selain itu SPEEDY juga menerapkan binding-port security sehingga penggunaan username & password Pelanggan A tidak mungkin dicuri pakai oleh Pelanggan lain di lokasi yang berbeda.
• Jumlah pemakaian mudah dikendalikan, dengan menggunakan info usage di www.telkomspeedy.com dan aplikasi quota alert, setiap pelanggan dapat mengendalikan jumlah pemakaian setiap bulannya
Konfigurasi Speedy dengan menggunakan sistem DSLAM.


Keterangan:
Pelanggan → MDF → DSLAM → CX → Metro Ethernet → CX → BRAS → RADIUS→ HPBB → Gateway → Global Internet

BRAS SPEEDY

1. Grafik bras speedy yang berada di Huawei.

2. Grafik bras speedy yang berada di Huawei antara tanggal 2008-06-03 to 2008-06-04 cx300_01-D5-MOJ .






3. Grafik pengguna telkom speedy di taman bungkul 2008-06-03 to 2008-06-04 berdasarkan pemakaian IP BRAS Huawei SBT
- Line Services
DATEL
BRAS


-User Online
DATEL



-Paket
BRAS



Konfigurasi Layanan Multimedia



DSL
DSL (dari bahasa Inggris: Digital Subscriber Line) adalah satu set teknologi yang menyediakan penghantar data digital melewati kabel yang digunakan dalam jarak dekat dari jaringan telepon setempat. Biasanya kecepatan downolad dari DSL berkisar dari 128 kbit/d sampai 24.000 kb/d tergantung dari teknologi DSL tersebut. Kecepatan upload lebih rendah dari download untuk ADSL dan sama cepat untuk SDSL. Di ujung pelanggan memerlukan sebuah modem DSL. Alat ini mengubah data dari sinyal digital yang digunakan oleh komputer menjadi sebuah sinyal voltase dalam jangkauan frekuensi yang sessuai dan kemudian disalurkan ke jalur telepon. Banyak teknologi DSL menggunakan sebuah lapisan ATM agar dapat beradaptasi dengan sejumlah teknologi yang berbeda. Implementasi DSL dapat menciptakan jaringan jembatan atau routed. Dalam konfigurasi jembatan, kelompok komputer pengguna terhubungkan ke subnet tunggal. Implementasi awal menggunakan DHCP untuk menyediakan detail jaringan seperti alamat IP kepada peralatan pengguna, dengan authentication melalui alamat MAC atau memberikan nama host. Kemudian implementasi seringkali menggunakan PPP melalui Ethernet atau ATM (PPPoE atau PPPoA).
DSL juga memiliki rasio contention yang layak dipertimbangkan pada saat memilih teknologi jalur lebar.

DSLAM
Digital subscriber line access multiplexer, atau sering disingkat menjadi DSLAM adalah sebuah peralatan yang berfungsi menggabungkan dan memisahkan sinyal data dengan saluran telepon yang dipakai untuk mentransmisikan data, peralatan ini terletak di ujung sentral telepon terdekat. Berfungsi juga sebagai multiplexer. Perangkat ini merupakan sebuah syarat dalam pengimplementasian jaringan Digital Subscriber Line (DSL).Pada perangkat DSLAM biasanya sudah terpasang SPLITTER yang berfungsi memisahkan sinyal suara dan sinyal data, dimana sinyal suara akan menuju perangkat sentral telepon dan sinyal data akan diarahkan menuju BRAS melalui media transmisi yang bisa berbentuk E1, STM-1 (Fiber Optic). Selanjutnya dari BRAS akan diarahkan ke masing-masing ISP yang sudah bekerja sama.
ADSL
ADSL atau Asymmetric Digital Subscriber Line adalah salah satu bentuk dari teknologi DSL. Ciri khas ADSL adalah sifatnya yang asimetrik, yaitu bahwa data ditransferkan dalam kecepatan yang berbeda dari satu sisi ke sisi yang lain. Sebelum ADSL, kita sudah terlebih dulu mengenal sistem yang disebut dial-up. Sistem ini menggunakan sambungan kabel telepon sebagai jaringan penghubung dengan Internet Service Provider (ISP). Namun dalam penggunaannya, dial-up memiliki beberapa kekurangan. Seperti rendahnya kecepatan dalam mengakses internet, terlebih di jam-jam tertentu yang merupakan waktu sibuk atau office hour. Selain itu, karena menggunakan sambungan telepon, kita tidak bisa menggunakan telepon bila sedang melakukan koneksi internet. Penggunaan sambungan telepon juga memungkinkan tingginya tingkat gangguan atau noise bila sedang menggunakan internet. Kekurangan lainnya adalah sistem penghitungan dial-up yang masih berdasarkan waktu dan masih dirasakan sangat mahal.
ADSL sendiri merupakan salah satu dari beberapa jenis DSL, disamping SDSL, GHDSL, IDSL, VDSL, dan HDSL. DSL merupakan teknologi akses internet menggunakan kabel tembaga, sering disebut juga sebagai teknologi suntikan atau injection technology yang membantu kabel telepon biasa dalam menghantarkan data dalam jumlah besar. DSL sendiri dapat tersedia berkat adanya sebuah perangkat yang disebut DSLAM (DSL Acces Multiplexter). Untuk mencapai tingkat kecepatan yang tinggi, DSL menggunakan sinyal frekuensi hingga 1 MHz. Lain halnya untuk ADSL, sinyal frekuensi yang dipakai hanya berkisar antara 20 KHz sampai 1 MHz. Sementara untuk penggunaan ADSL di Indonesia dengan program Telkom Speedy, kecepatan yang ditawarkan berkisar antara 386 kbps untuk downstream dan 64 kbps untuk upstream. Kecepatan downstream inilah yang menjadikan ADSL lebih cocok untuk kalangan rumah tangga. Karena pada kalangan rumah tangga umumnya lebih banyak kegiatan menerima, dibandingkan kegiatan mengirim. Seperti mendownload data, gambar, musik, ataupun video. Perkenalan masyarakat Indonesia sendiri akan ADSL mulai berkembang saat PT.Telkom, yang merupakan perusahaan pengatur jaringan telepon nasional memperkenalkan program yang disebut sebagai Telkom Speedy, yaitu jaringan khusus dari PT.Telkom untuk penggunaan internet. Dengan melakukan pemasaran dan promosi-promosi yang gencar, Telkom Speedy berhasil dipasarkan di kalangan rumah tangga.
Adapun cara-cara penggunaan ADSL di Indonesia, pertama-tama kita terlebih dahulu harus memiliki perangkat ADSL. Seteleh memiliki perangkat ADSL, kita harus memeriksa keberadaan nomor telepon rumah kita di layanan Telkom Speedy, apakah sudah terdaftar atau belum. Selanjutnya yang harus diperhatikan adalah, seberapa jauh jarak antara gardu Telkom dengan rumah kita. Karena dalam ADSL, jarak sangat berpengaruh pada kecepatan koneksi internet. Setelah memastikan bahwa nomor telepon sudah terdaftar dan jarak sudah diperhitungkan, yang harus kita lakukan selanjutnya adalah pemasangan ADSL pada sambungan telepon. Untuk menyambungkan antara ADSL dengan line telepon, kita menggunakan sebuah alat yang disebut sebagai Splitter atau pembagi line. Splitter ini berguna untuk menghilangkan gangguan ketika kita menggunakan modem ADSL. Sehingga nantinya kita tetap dapat menggunakan internet dan menjawab telepon secara bersamaan. ADSL sendiri memiliki bermacam-macam jenis dengan kecepatan, jenis router, USB dan perangkat lain yang ada di dalamnya. Misalnya ada yang dapat dipakai untuk dua komputer dengan menggunakan sambungan USB, tapi ada juga yang dapat digunakan untuk empat komputer dengan koneksi LAN Ethernet. Namun ada baiknya dalam memilih modem ADSL, kita memilih menggunakan modem yang memiliki tombol on dan off. Hal ini dimaksudkan supaya kita dapat mengatur penggunaan koneksi sebanyak yang kita butuhkan dan menghemat biaya koneksi yang digunakan. Terlebih di Indonesia masih menggunakan penghitungan waktu atau banyaknya bandwidth yang digunakan.
Hal penting lain yang dimiliki oleh modem ADSL adalah adanya lampu indikator yang berguna mengetahui jalannya proses koneksi yang terjadi. Umumnya lampu yang ada pada modem ADSL adalah lampu PPP, Power, DSL. Ada juga lampu tambahan bila kita menggunakan koneksi Ethernet dan USB. Dari tiga lampu indikator yang ada pada modem, yang terpenting adalah lampu PPP dan DSL. Di mana lampu DSL menunjukkan koneksi sudah terhubung dengan baik pada line. Sementara lampu PPP menunjukkan adanya arus data ketika seseorang melakukan browsing.
Setelah perangkat lengkap, hal yang penting dalam penggunaan ADSL di Indonesia adalah penggunaan IP modem dan password. Hal ini digunakan untuk melindungi penggunaan layanan bagi konsumen yang diberikan oleh provider. IP yang kita miliki akan menjadi gerbang untuk memasuki jaringan. Jika kita merubah password untuk login, maka kita perlu memasukkan kembali sesuai perubahan yang dilakukan. Bila seluruh proses ini berhasil dilalui, maka selanjutnya kita sudah dapat berkoneksi internet dengan ADSL. Penggunaan ADSL di Indonesia saat ini tidak hanya berkisar hanya di pulau Jawa saja, tapi juga sudah meluas sampai ke luar Jawa. Seperti Bali dan Sumatera. Walaupun kualitas yang ditawarkan memang masih banyak mengalami masalah, namun adanya ADSL dalam berkoneksi internet sangatlah membantu dibandingkan dengan cara lama yang menggunakan sistem dial-up.
FRAME RELAY

Relay adalah protokol packet-switching yang menghubungkan perangkat-perangkat telekomunikasi pada satu Wide Area Network (WAN). Protokol ini bekerja pada lapisan Fisik dan Data Link pada model referensi OSI. Protokol Frame Relay menggunakan struktur Frame yang menyerupai LAPD, perbedaannya adalah Frame Header pada LAPD digantikan oleh field header sebesar 2 bita pada Frame Relay.Frame Relay menawarkan alternatif bagi teknologi Sirkit Sewa lain seperti jaringan X.25 dan sirkit Sewa biasa.
Kunci positif teknologi ini adalah:
• Sirkit Virtual hanya menggunakan lebar pita saat ada data yang lewat di dalamnya, banyak sirkit virtual dapat dibangun secara bersamaan dalam satu jaringan transmisi.
• Kehandalan saluran komunikasi dan peningkatan kemampuan penanganan error pada perangkat-perangkat telekomunikasi memungkinkan protokol Frame Relay untuk mengacuhkan Frame yang bermasalah (mengandung error) sehingga mengurangi data yang sebelumnya diperlukan untuk memproses penanganan error. Proposal awal mengenai teknologi Frame Relay sudah diajukan ke CCITT semenjak tahun 1984, namun perkembangannya saat itu tidak signifikan karena kurangnya interoperasi dan standarisasi dalam teknologi ini. Perkembangan teknologi ini dimulai di saat Cisco, Digital Equipment Corporation (DEC), Northern Telecom, dan StrataCom membentuk suatu konsorsium yang berusaha mengembangkan frame relay. Selain membahas dasar-dasar protokol Frame Relay dari CCITT, konsorsium ini juga mengembangkan kemampuan protokol ini untuk berinteroperasi pada jaringan yang lebih rumit. Kemampuan ini di kemudian hari disebut Local Management Interface. Membatasi awal dan akhir suatu frame. Nilai field ini selalu sama dan dinyatakan dengan bilangan hexadesimal 7E atau 0111 1110 dalam format biner. Untuk mematikan bilangan tersebut tidak muncul pada bagian frame lainnya, digunakan prosedur Bit-stuffing dan Bit-destuffing.


IMUX

Dalam elektronik, telekomunikasi, dan jaringan komputer, multipleksing adalah istilah yang digunakan untuk menunjuk ke sebuah proses di mana beberapa sinyal pesan analog atau aliran data digital digabungkan menjadi satu sinyal. Tujuannya adalah untuk berbagi sumber daya yang mahal. Contohnya, dalam elektronik, multipleksing mengijinkan beberapa sinyal analog untuk diproses oleh satu analog-to-digital converter (ADC), dan dalam telekomunikasi, beberapa panggilan telepon dapat disalurkan menggunakan satu kabel. Dalam komunikasi, sinyal yang telah dimultipleks disalurkan ke sebuah saluran komunikasi, yang mungkn juga merupakan medium transmisi fisik. Multipleksing membagi kapasitas saluran komunikasi tingkat-rendah menjadi beberapa saluran logik tingkat-tinggi, masing-masing satu untuk setiap sinyal pesan atau aliran data yang ingin disalurkan. Sebuah proses kebalikannya, dikenal dengan demultipleksing, dapat mengubah data asli di sisi penerima. Sebuah alat yang melakukan multipleksing disebut multiplekser (MUX) dan alat yang melakukan proses yang berlawanan disebut demultiplekser, (DEMUX). Bentuk paling dasar dari multipleksing adalah time-division multipleksing (TDM) dan frequency-division multiplexing (FDM). Dalam komunikasi optik, FDM sering disebut sebagai wavelength-division multiplexing (WDM). Multiplexing adalah suatu teknik mengirimkan lebih dari satu (:banyak) informasi melalui satu saluran. Istilah ini adalah istilah dalam dunia telekomunikasi. Tujuan utamanya adalah untuk menghemat jumlah saluran fisik misalnya kabel, pemancar & penerima (transceiver), atau kabel optik. Contoh aplikasi dari teknik multiplexing ini adalah pada jaringan transmisi jarak jauh, baik yang menggunakan kabel maupun yang menggunakan media udara (wireless atau radio). Sebagai contoh, satu helai kabel optik Surabaya-Jakarta bisa dipakai untuk menyalurkan ribuan percakapan telepon. Idenya adalah bagaimana menggabungkan ribuan informasi percakapan (voice) yang berasal dari ribuan pelanggan telepon tanpa saling bercampur satu sama lain. Teknik multiplexing ada beberapa cara. Yang pertama, multiplexing dengan cara menata tiap informasi (suara percakapan 1 pelanggan) sedemikian rupa sehingga menempati satu alokasi frekuensi selebar sekitar 4 kHz. Teknik ini dinamakan Frequency Division Multiplexing (FDM). Teknologi ini digunakan di Indonesia hingga tahun 90-an pada jaringan telepon analog dan sistem satelit analog sebelum digantikan dengan teknologi digital. Pada tahun 2000-an ini, ide dasar FDM digunakan dalam teknologi saluran pelanggan digital yang dikenal dengan modem ADSL (asymetric digital subscriber loop).Yang kedua adalah multiplexing dengan cara tiap pelanggan menggunakan saluran secara bergantian. Teknik ini dinamakan Time Division Multiplexing (TDM). Tiap pelanggan diberi jatah waktu (time slot) tertentu sedemikian rupa sehingga semua informasi percakapan bisa dikirim melalui satu saluran secara bersama-sama tanpa disadari oleh pelanggan bahwa mereka sebenarnya bergantian menggunakan saluran. Kenapa si pelanggan tidak merasakan pergantian itu? Karena pergantiannya terjadi setiap 125 microsecond; berapapun jumlah pelanggan atau informasi yang ingin di-multiplex, setiap pelanggan akan mendapatkan giliran setiap 125 microsecond, hanya jatah waktunya semakin cepat.Teknik multiplexing yang ketiga adalah yang digunakan dalam saluran kabel optik yang disebut Wavelength Division Multiplexing (WDM), yaitu satu kabel optik dipakai untuk menyalurkan lebih dari satu sumber sinar dimana satu sinar dengan lamda tertentu mewakili satu sumber informasi.


MODEM
Modem berasal dari singkatan MOdulator DEModulator. Modulator merupakan bagian yang mengubah sinyal informasi kedalam sinyal pembawa (Carrier) dan siap untuk dikirimkan, sedangkan Demodulator adalah bagian yang memisahkan sinyal informasi (yang berisi data atau pesan) dari sinyal pembawa (carrier) yang diterima sehingga informasi tersebut dapat diterima dengan baik. Modem merupakan penggabungan kedua-duanya, artinya modem adalah alat komunikasi dua arah. Setiap perangkat komunikasi jarak jauh dua-arah umumnya menggunakan bagian yang disebut "modem", seperti VSAT, Microwave Radio, dan lain sebagainya, namun umumnya istilah modem lebih dikenal sebagai Perangkat keras yang sering digunakan untuk komunikasi pada komputer.
Data dari komputer yang berbentuk sinyal digital diberikan kepada modem untuk diubah menjadi sinyal analog. Sinyal analog tersebut dapat dikirimkan melalui beberapa media telekomunikasi seperti telepon dan radio.Setibanya di modem tujuan, sinyal analog tersebut diubah menjadi sinyal digital kembali dan dikirimkan kepada komputer. Terdapat dua jenis modem secara fisiknya, yaitu modem eksternal dan modem internal.

Jenis modem

Modem terbagi atas:
1. Modem analog yaitu modem yang mengubah sinyal analog menjadi sinyal digital
2. Modem ADSL
3. Modem kabel yaitu modem yang menerima data langsung dari penyedia layanan lewat TV Kabel
4. Modem CDMA
5. Modem 3GP
6. Modem GSM



MPLS
Multiprotocol Label Switching (disingkat menjadi MPLS) adalah teknologi penyampaian paket pada jaringan backbone berkecepatan tinggi. Asas kerjanya menggabungkan beberapa kelebihan dari sistem komunikasi circuit-switched dan packet-switched yang melahirkan teknologi yang lebih baik dari keduanya. Sebelumnya, paket-paket diteruskan dengan protokol routing seperti OSPF, IS-IS, BGP, atau EGP. Protokol routing berada pada lapisan network (ketiga) dalam sistem OSI, sedangkan MPLS berada di antara lapisan kedua dan ketiga.Prinsip kerja MPLS ialah menggabungkan kecepatan switching pada layer 2 dengan kemampuan routing dan skalabilitas pada layer 3. Cara kerjanya adalah dengan menyelipkan label di antara header layer 2 dan layer 3 pada paket yang diteruskan. Label dihasilkan oleh Label-Switching Router dimana bertindak sebagai penghubung jaringan MPLS dengan jaringan luar. Label berisi informasi tujuan node selanjutnya kemana paket harus dikirim. Kemudian paket diteruskan ke node berikutnya, di node ini label paket akan dilepas dan diberi label yang baru yang berisi tujuan berikutnya. Paket-paket diteruskan dalam path yang disebut LSP (Label Switching Path).
Komponen MPLS :
• Label Switched Path (LSP): Merupakan jalur yang melalui satu atau serangkaian LSR dimana paket diteruskan oleh label swapping dari satu MPLS node ke MPLS node yang lain.
• Label Switching Router: MPLS node yang mampu meneruskan paket-paket layer-3
• MPLS Edge Node atau Label Edge Router (LER): MPLS node yang menghubungkan sebuah MPLS domain dengan node yang berada diluar MPLS domain

• MPLS Egress Node: MPLS node yang mengatur trafik saat meninggalkan MPLS domain

• MPLS ingress Node: MPLS node yang mengatur trafik saat akan memasuki MPLS domain

• MPLS label: merupakan label yang ditempatkan sebagai MPLS header

• MPLS node: node yang menjalankan MPLS. MPLS node ini sebagai control protokol yang akan meneruskan paket berdasarkan label.



REMOTE AUTHENTICATION DIAL-IN USER SERVICE

Remote Authentication Dial-In User Service (sering disingkat menjadi RADIUS) adalah sebuah protokol keamanan komputer yang digunakan untuk melakukan autentikasi, otorisasi, dan pendaftaran akun pengguna secara terpusat untuk mengakses jaringan. RADIUS didefinisikan di dalam RFC 2865 dan RFC 2866, yang pada awalnya digunakan untuk melakukan autentikasi terhadap akses jaringan secara jarak jauh dengan menggunakan koneksi dial-up. RADIUS, kini telah diimplementasikan untuk melakukan autentikasi terhadap akses jaringan secara jarak jauh dengan menggunakan koneksi selain dial-up, seperti halnya Virtual Private Networking (VPN), access point nirkabel, switch Ethernet, dan perangkat lainnya.
SINGLE-PAIR HIGH-SPEED DIGITAL SUBSCRIBER LINE
Single-Pair high-speed digital subscriber line (SHDSL) is a telecommunications technology for Digital Subscriber Line (DSL) subscriber lines. It describes a transmission method for signals on copper pair lines, being mostly used in access networks to connect subscribers to Telephone exchanges or POP Access Points.
G.SHDSL was standardized in February 2001 internationally by ITU-T with recommendation G.991.2.G.SHDSL features symmetrical data rates from 192 kbit/s to 2,304 kbit/s of payload in 64 kbit/s increments for one pair and 384 kbit/s to 4,608 kbit/s in 128 kbit/s increments for two pair applications. The reach varies according to the loop rate and noise conditions (more noise or higher rate means decreased reach) and may be up to 3,000 meters. The two pair feature may alternatively be used for increased reach applications by keeping the data rate low (halving the data rate per pair will provide similar speeds to single pair lines while increasing the error/noise tolerance).
The payload may be either 'clear channel' (unstructured), T1 or E1 (full rate or fractional), n x ISDN Basic Rate Access (BRA), Asynchronous Transfer Mode (ATM) or 'dual bearer' mode (i.e. a mixture of two separate streams (e.g. T1 and 'packet based') sharing the payload bandwidth of the G.shdsl loop).
In Europe, a variant of G.SHDSL was standardized by ETSI using the name 'SDSL'. This ETSI variant is not compatible with the ITU-T G.SHDSL standardized regional variant for Europe and must not be confused with the usage of the term 'SDSL' in North America.
The latest standardization efforts (G.SHDSL.bis) tend to allow for flexibly changing the amount of bandwidth dedicated to each transport unit to provide 'dynamic rate repartitioning' of bandwidth demands during the uptime of the interface and optionally provides for 'extended data rates' by using a different modulation method (32-TCPAM instead of 16-TCPAM, where TCPAM is Trellis-Coded Pulse Amplitude Modulation). Also, a new payload type is introduced: packet based, e.g. to allow for Ethernet-frames to be transported natively. (Currently, they may only be framed in ATM or T1/E1/...). G.SHDSL.bis can deliver a minimum of 2 Mbit/s and a maximum of 5.69 Mbit/s over distances of up to 2.7 km (9 Kft).
VPN
VPN adalah singkatan dari virtual private network, yaitu jaringan pribadi (bukan untuk akses umum) yang menggunakan medium nonpribadi (misalnya internet) untuk menghubungkan antar remote-site secara aman. Perlu penerapan teknologi tertentu agar walaupun menggunakan medium yang umum, tetapi traffic (lalu lintas) antar remote-site tidak dapat disadap dengan mudah, juga tidak memungkinkan pihak lain untuk menyusupkan traffic yang tidak semestinya ke dalam remote-site.
Menurut IETF, Internet Engineering Task Force, VPN is an emulation of [a]



private Wide Area Network(WAN) using shared or public IP facilities, such as the Internet or



private IP backbones.VPN merupakan suatu bentuk private internet yang melalui public network


(internet), dengan menekankan pada keamanan data dan akses global melalui internet.

Hubungan ini dibangun melalui suatu tunnel (terowongan) virtual antara 2 node.
T3-Online
Adalah layanan gangguan bagi pelanggan speedy. Tugas utamanya adalah melaporkan pengaduan dari pelanggan yang mengalami gangguan layanan speedy ke masing-masing divisi sesuai dengan gangguan yang dialami.
Urutan kinerja pada T3-Online adalah sebagai berikut:
1. Open ticket
2. Masalah
3. Analisa
4. Tracking penanganan gangguan(dispatching)
5. Closing ticket

Level penanganan gangguan adalah:
1. Divisi Utama
2. Kepala Divisi
3. Deputy Divisi
4. Manager
5. Asisten Manager
6. Pelaksana(teknisi)

Keterangan: Apabila suatu pelaksana tidak dapat menyelesaikan dan menangani gangguan, maka Asisten Manager yang akan membantunya, demikian seterusnya hingga mencapai level paling tinggi jika suatu saat penanganan tidak berhasil sampai di level Kepala Divisi. Khusus level Pelaksana waktu maksimal untuk penanganan adalah 6 jam, dan lebih baik jika kurang dari 4 jam. Tetapi untuk level lainnya diberikan waktu maksimal 2 jam sedikitnya.
Di bawah ini adalah grafik layanan T3-Online berdasarkan jenis layanan dan nilai MTTRnya.



Diposkan oleh Prakerin SMK Telkom Malang di 18:36 0 komentar
Label: PSG
SKSO
SKSO (Sistem Komunikasi Serat Optik)

1. KARAKTERISTIK SERAT OPTIK


a. Ukuran kecil

Diameter luar serat optik berkisar antara 100-250 µm. Diameter maksimum setelah dilapisi/dibungkus dengan plastick/nilon sebagai jaket menjadi ± 1 mm. Ukuran ini masih sangat kecil dibandingkan dengan konduktor kabel coaxial (1-10 mm).

b. Ringan

Dibandingkan dengan kabel transmisi biasa (Spesifigravity 9.8) maka specifigravity bahan silica sebagai serat optik yaitu 2.2, sehingga beratnya menjadi 1/2 – 1/3 berat kabel transmisi biasa.

c. Lentur

Pada umumnya serat optik tidak akan patah bila dilengkungkan dengan radius 5mm. Oleh karenanya kabel serat optik mempunyai kelenturan yang sama dengan kabel transmisi biasa, sehingga teknis pemasangannya tidak jauh berbeda dengan teknik pemasangan kabel biasa.

d. Tidak berkarat

Bahan silica sebagai bahan dasar serat optik mempunyai sifat kimia yang sangat stabil oleh karenanya tidak mungkin berkarat.

e. Rugi-rugi rendah

Serat optik dengan bahan silica mempunyai rugi-rugi transmisi rendah, besarnya berkisar 2-8 dB/km dengan panjang gelombang 830 nm. Dibandingkan dengan kabel coaksial yang mempunyai rugi-rugi transmisi sebesar 19 dB/km pada frekuensi 60 Mhz.

f. Kapasitas tinggi

Kapasitas dalam menyalurkan informasi per cross section area sangat besar disamping mempunyai bandwidth yang lebar (Broadband).
Sebagai contoh :
Kapasitas penyaluran per cross section area 100 x dibandngkan dengan multi pair cable dan 10 x dibandingkan dengan coaxial cable.

g. Bebas induksi

Serat optik menggunakan bahan dasar silica yang pada dasarnya merupakan bahan dielektrik yang sangat baik dan kebal terhadap induksi elektromagnet dan juga terhadap kilat/petir.

h. Cross Talk rendah

Kemungkinan terjadinya kebocoran sinar antar serat optik sangat kecil, demikian pula kebocoran akibat masuknya sinar dari luar kemudian ikut merambat dalam serat optik.

i. Tahan temperatur tinggi

Bahan silica mempuyai titik leleh ± 1900º C dan ini sangat jauh diatas titik leleh capper dan plastik. Sangat ideal bila dipergunakakn sebagai sarana komunikasi pada daerah yang rawan terhadap tenperatur tinggi.

j. Tidak menimbulkan bunga api

Pada titik sambung tidak mungkin terjadi bunga api (discharge), oleh karenanya sangat ideal bila digunakan pada tempat-tempat yang peka terhadap ledakan/kebakaran.

k. Tidak dapat dicabangkan

Serat optik mempunyai ukuran sangat kecil/sangat tipis. Oleh karenanya sangat sulit bahkan tidak mungkin untuk dicabangkan. Bila harus dicabangkan maka harus dilakukan perubahan terlebih dahulu dari sinyal optik ke sinyal elektrik.

l. Tidak menggunakan bahan tembaga

Serat optik menggunakan bahan silica yang tidak mengandung unsur logam bahkan serat optik yang menggunakan Multicomponent Glass, unsur campuran logam (copper) sangat kecil. Tembaga hanya digunakan sebagai pelapis pelidung pada kabel fiber optic untuk komunikasi kabel laut dan sebagai lewatnya arus DC untuk mencatu tegangan pada repeater-repeater di bawah laut.

m. Rapuh

Meskipun rapuh, namun masih mempunyai daya peregangan kurang lebih sebesar 5% untuk menghindarkan kerusakan serat optik pada waktu pemasangan/penarikan, maka pada waktu disusun menjadi kabel optik diberi penguat.



2. JENS-JENIS SERAT OPTIK:

1. Multimode Step Index
2. Multimode Graded Index
3. Single mode Step Index